Begitu tiba di hadapan artefak yang terletak di tengah bukit, pandangannya segera tertuju pada pusaran energi iblis yang mengalir keluar dari portal. Energi itu berputar di udara tanpa bergerak liar, seakan menunggu sesuatu. Saat Lynx melangkah lebih dekat, energi tersebut seketika masuk ke dalam tubuhnya. Namun, alih-alih merusak, tubuhnya secara alami menyerap dan mengarahkannya ke dalam dantiannya. Tanpa ragu, ia melangkah memasuki dunia kecil yang gelap gulita, berniat menyerap seluruh energi iblis yang masih tersisa di dalamnya.

Lynx menyusun rencananya dengan matang. "Kali ini aku harus menyerap dalam jumlah besar. Aku harus membuka kembali segel kekuatanku. Selain itu, aku tidak bisa membiarkan energi ini tetap berada di dantianku dan menimbulkan kecurigaan bagi mereka yang mampu merasakannya."

Dengan keyakinan penuh, Lynx membuka segel yang tersembunyi di akar spiritualnya, serta benda asing yang selama ini berada di dalam tubuhnya. Saat segel itu terbuka, dunia kecil berguncang hebat, seolah hendak runtuh. Namun, berbeda dari sebelumnya, kini Lynx telah bersiap. Ia segera menstabilkan aliran energinya, mengendalikan guncangan tersebut, lalu mulai menyerap energi iblis dengan lebih cepat.

"Bagus. Energi iblis ini kini telah menyatu dengan akar spiritualku tanpa perlawanan," pikirnya sambil memeriksa aliran energi dalam tubuhnya. Ia merasakan bagaimana energi sakti dan energi iblis kini berjalan selaras dalam sistem kultivasinya, tak lagi berbenturan.

Dalam sekejap, energi iblis yang memenuhi dunia kecil terserap ke dalam tubuh Lynx. Ruang yang semula gelap meskipun bercahaya samar, perlahan mulai bersinar lebih terang. Tanpa membuang waktu, ia segera berpindah ke tempat-tempat lain di dunia kecil di mana energi iblis masih tersisa, termasuk ke jurang kuburan binatang iblis. Setiap tempat yang ia datangi, ia menyerap semua sisa energi gelap hingga tak ada lagi yang tertinggal.

Setelah memastikan semua lapisan dunia kecil telah bersih dari energi iblis, Lynx kembali ke gerbang artefak. Dengan satu gerakan tangannya, ia menutup portal sepenuhnya. Setelah itu, ia menyimpan artefak tersebut ke dalam cincin penyimpanan. "Aku bisa memanfaatkan benda ini nanti."

Sementara itu, di rumah Walikota, kehebohan terjadi begitu seorang prajurit datang dengan terburu-buru melapor kepada Komandan Jiang. "Komandan! Ada yang aneh! Energi iblis… menghilang!" serunya dengan napas tersengal-sengal.

Komandan Jiang yang sedang berdiskusi dengan Walikota bersama Li Wei, Ling Mei, dan yang lainnya langsung mengernyitkan kening. "Menghilang?" tanyanya tajam. "Apa maksudmu?"

Prajurit itu mengangguk dengan terbata-bata. "Ya, Komandan. Asap hitam yang sebelumnya menyelimuti kota… kini lenyap begitu saja."

Semua yang hadir terkejut mendengar laporan itu. Tanpa banyak bicara, mereka segera bergegas keluar dari rumah Walikota. Saat tiba di luar, mereka menyaksikan pemandangan yang tak terduga. Kota Huoling, yang sebelumnya diliputi kabut hitam energi iblis, kini tampak bersih. Langit yang kelam telah kembali cerah, dan sinar matahari menyinari kota dengan terang.

Ling Mei berdiri di tengah kerumunan, merasakan firasat aneh yang mengingatkannya pada Lynx. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berlari menuju kamar tempat Lynx dirawat. Begitu sampai di pintu, ia mendapati hanya Jelita yang ada di dalam, duduk di samping tempat tidur yang kini kosong.

"Xiao Ling…?" Ling Mei bertanya sambil menyipitkan mata.

Jelita mengangkat wajahnya dan mengangguk. "Dia sudah sadar, Ling Mei. Tapi… dia langsung pergi," jawabnya dengan suara cemas, meski berusaha tetap tenang.

Ling Mei terkejut. "Apa? Pergi? Tubuhnya mengalami luka parah, bagaimana mungkin?"

Jelita hanya bisa menggeleng. "Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba bangun dan langsung pergi begitu saja. Aku tidak sempat mencegahnya."

Rasa khawatir semakin menggerogoti Ling Mei. Ia tahu betul kondisi tubuh Lynx mengalami luka berat. Setelah memeriksanya sendiri, ia yakin dantiannya dan saraf-sarafnya mengalami kerusakan parah. Dalam keadaan seperti itu, seharusnya Lynx tak mungkin bisa bergerak, apalagi menghilang begitu saja.

Tanpa membuang waktu, Ling Mei segera kembali ke halaman depan tempat Walikota dan yang lainnya berkumpul. "Xiao Ling sudah sadar, tapi dia pergi tanpa memberi tahu siapa pun," katanya, suaranya penuh kegelisahan. "Aku khawatir jika dia memaksakan diri dengan tubuhnya yang masih terluka parah."

Walikota dan yang lainnya mendengarkan dengan serius. Komandan Jiang dan Li Wei saling berpandangan.

"Xiao Ling pemuda yang luar biasa, tetapi jika kondisinya terluka seperti itu, tidak ada yang bisa dia lakukan. Kita harus menemukannya, jangan biarkan dia berusaha sendirian," kata Komandan Jiang dengan rasa khawatir.

Li Wei menambahkan, "Betul. Kita harus segera menyusulnya, dia sudah banyak membantu keluargaku dan menyembuhkan kakakku."

Li Mei mengangguk. "Namun, meski begitu, kalian harus tetap waspada. Mungkin telah terjadi sesuatu sehingga energi iblis mendadak lenyap. Jangan sampai ini adalah awal dari bencana besar berikutnya."

Ling Mei menyentuh dadanya dengan cemas. "Aku akan mencarinya," katanya dengan tegas. "Jika ia benar-benar pergi dalam kondisi seperti itu, aku harus menemukannya."

Li Wei memperhatikan sikap kakak seperguruannya dengan tatapan tajam, dia merasakan perbedaan yang sangat mencolok dengan sikapnya. "Kak Ling Mei, aku juga akan ikut mencarinya."

"Tunggu, aku juga ikut." Kata Jelita yang mendadak datang menyusul. Dia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Lynx.

Ling Mei menatap Yun Qing, terdapat rasa nyeri dihatinya melihat wajah Yun Qing terutama mengingat wanita ini adalah istri Xiao Ling. Dia lalu menganggukkan kepalanya, karena tidak mungkin melarang Yun Qing mencari suaminya.

"Kami juga akan ikut membantu." kata murid-murid sekte Api Langit yang lainnya.

"Ayah, jika demikian kami semua akan berangkat mencari Xiao Ling." kata Li Wei segera sebelum mereka berangkat.

Komandan Jiang menghela napas. "Maafkan saya nona Li Wei, saya tidak bisa ikut membantu, saya harus memastikan keamanan penduduk terlebih dahulu." katanya dengan nada menyesal.

"Tidak mengapa paman Jiang. Kami paham. Kami berangkat sekarang." kata Li Wei segera dan beranjak pergi.

Beberapa penduduk yang sebelumnya bersembunyi di balik formasi pelindung mulai memberanikan diri untuk keluar. Atmosfer di luar formasi terasa tenang dan aman. Saat mereka melihat bahwa tidak ada lagi ancaman di kota, senyum lega muncul di wajah mereka.

Walikota, yang masih berdiri bersama Komandan Jiang dan yang lainnya, melihat ke arah penduduk yang mulai keluar. Ia segera memberi perintah. "Kembali ke rumah masing-masing. Periksa keadaan keluarga kalian dan pastikan semuanya baik-baik saja. Kita harus tetap waspada," ucapnya tegas. "Komandan Jiang, segera laporkan situasi di kota. Pastikan kita mengetahui semua dampak yang ditimbulkan akibat energi iblis yang mengamuk."

Komandan Jiang mengangguk dan bergegas untuk menindaklanjuti perintah Walikota. Sementara itu Zhen Huan dan Li Mei ikut memperhatikan perubahan yang terjadi di kota mereka, meskipun mereka masih merasa cemas dengan keberadaan Lynx.

Komandan Jiang sendiri merasa lega karena keluarganya sedang tidak ada di tempat tersebut. Beberapa hari sebelumnya, istri beserta anaknya sedang pergi ke kota Zhurong setelah mengetahui komandan Jiang akan pergi mengawal Li Wei mencari tanaman spiritual.

Sementara itu, rombongan Ling Mei segera berangkat. Karena Jelita memiliki ranah kultivasi yang lebih rendah, mereka semua menyesuaikan kecepatan mereka agar ia tidak tertinggal. Ling Mei menyalurkan sebagian energinya untuk membantu Jelita berlari lebih cepat.

"Maaf, karena membawaku, kalian jadi tidak bisa bergerak cepat." kata Jelita dengan nada menyesal.

"Tidak perlu di pikirkan. Kita akan menemukannya bersama." Kata Ling Mei sambil berlari.

"Kemana kita akan mencarinya?" tanya Li Wei dengan nada cemas.

"Kurasa aku tahu ke mana dia. Kita harus ke bukit tempat artefak itu berada," jawab Ling Mei sambil terus berlari. Ia kemudian mencoba mengedarkan persepsinya, dan benar saja, ia menemukan seseorang dengan ranah Forging Qi tingkat dua berada di sana.

Namun, yang membuatnya heran adalah apa yang sedang dilakukan orang tersebut.

"Aku berangkat duluan, kalian segera menyusul," kata Ling Mei.

Tanpa menunggu jawaban, ia meningkatkan kecepatannya, melesat seperti bayangan. Dalam sekejap, ia telah tiba di tempat itu, dan pemandangan di hadapannya membuatnya terbelalak.

